Kamis, 10 Maret 2011

Kriteria Suami yang Shaleh

Ketika seorang calon suami ikrar menerima ijab dari pihak perempuan, maka terjadilah ungkapan baru bagi keduanya yaitu sepasang pengantin. Bukan lagi seorang laki-laki perjaka dan wanita gadis, bukan lagi disebut dua orang manusia namun istilahnya berubah menjadi “sepasang”.
Tidak disebut sepasang bila sepatu itu kiri dan kiri atau kanan dan kanan, namun akan disebut sepasang bila sepatu itu terdiri dari kiri dan kanan.
Begitupun sepasang pengantin, perbedaan itu tidak bisa dihindarkan, akan teralami saat-saat tidak selamanya sependirian, tidak selamanya sekeinginan, hanya mereka sedang diuji bagaimana menyikapi hal-hal tersebut sehigga membuahkan kenikmatan yang tak terhingga ketika di dunia bahkan di akherat.
Bukan kah pedasnya cabai, asinnya garam, manisnya gula, baunya terasi, ketika pintar disikapi dalam satu wajan, maka akan menghasilkan racikan yang mampu membuat suatu restoran terkenal dengan sambalnya ?
Sifat mampu menyikapi segala permasalahan keluarga sering diungkapkan dengan istilah sholeh. Sholeh bukan hanya disandarkan kepada istri saja, namun kepada suami pun demikian. Bagi istri disebut istri yang sholehah, begitupun dengan suami disebut suami yang sholeh.
Diantara sifat sholeh adalah mampu menyikapi permasalahan yang ada. Permasalahan dalam keluarga hanya bisa diatasi dengan sifat mau memahami apa kewajibannya masing-masing, dengan melaksanakan kewajiban masing-masing maka terpenuhilah hak nya masing-masing. Sebab hal itu merupakan hak dari pribadi masing-masingnya secara kebalikan. Kewajiban istri merupakan hak suami, begitupun kewajiban suami merupakan hak istri. Bila masing-masingnya melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, maka hakikatnya ia telah memberikan hak kepada lawan pasangannya, namun bila salah satunya sudah meninggalkan kewajibannya maka hakikatnya ada suatu hak yang telah diabaikan. Bukankah dengan terabaikannya hak seeorang inilah yang sering menyebabkan konflik ?
Oleh karena itu seorang suami ataupun istri, mereka harus saling menghargai, sebab bila hilang rasa pengahargaan maka akan hilang pula penghormatan. Mereka harus saling mengerti sebab bila hilang sifat saling mengerti maka akan hilang pula kepercayaan. Dengan sifat saling memahami, saling menghargai, dan saling mengerti, maka keduanya akan senantiasa berada dalam keadaan sakinah mawaddah dan rahmah.
Selain sifat di atas, Allah swt. pun menerangkan kewajiban-kewajiban suami dalam Al-Quran diantaranya :
  1. 1. Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan, sebagaimana firman Allah swt. :
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا
Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (Q.S. Al-Baqarah: 233)
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (٦)
Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.? (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)
  1. 2. Memberikan nafkah batin
Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya batin. Kasih sayang, rasa aman dan nyaman, akan menjadi perekat pernikahan, begitupun keperluan biologis apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan, cinta, kasih sayang, memberi rasa aman dan nyaman tentu akan selalu terus mempererat tali yang sangat kuat tersebut (Mitsaqon Gholidhon).
Allah swt. menetapkan untuk saling memberikan rasa aman, nyaman, dan, tentram :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum : 21)
bahkan Allah swt. pun menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri dengan bahasa yang halus.
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah. (Q.S. Al-Baqarah: 223)
Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah sebagaimana saja yang dikehendaki, dengan demikian pasangan suami istri tersebut dibolehkan melakukan apapun dalam hubungan intim, selama dirasakan nyaman oleh keduanya, sebab dalam hubungan intim tersebut akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa sayang dari keduanya, dapat pula menumbuhkan rasa nyaman bagi keduanya, bahkan Nabipun mengungkapkan bahwa hal itu pun termasuk ibadah, namun tentu mesti dapat pula memperhatikan batasan-batasan yang telah digariskan oleh syari’, sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi (135) dari Abu Hurairah.
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Barang siapa yang mendatangi istrinya ketika haid, atau lewat duburnya, atau datang kepada dukun, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang Allah turunkan kepada Nabi Muhmmad saw. (At-Tirmidzi : 135)
ملْعُوْنٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِيْ دُبُرِهَا
Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya. (Abu Daud : 2162)
  1. 3. Memberi Bimbingan pada Keluarga (istri dan anak)
Maha besar Allah, yang telah menjadikan seorang suami itu sebagai pemimpin bukan pengurus, dengan dijadikannya laki-laki sebagai pemimpin maka hal itu dapat meningkatkan derajat seorang perempuan. Sebab tentu tidak akan ada wanita yang ingin diurus ?. sebab dengan dipimpin, istripun memeiliki hak-hak yang besar pula. Disebabkan suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.
Allah swt. berfirman :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
kaum laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS. An-Nisa : 34)
ketika istri berlaku Nusyuz (Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya) maka, bila terjadi penyimpangan-penyimpangan pada istri-istri, suami wajib menashehatinya sebab hal itu wujud sayangnya kepada istri supaya istri tidak terjerumus dalam kejelekan. Maksudnya, untuk memberi pelajaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah dimula dengan nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (١٣٢)
dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, (sebab) kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thoha : 132)
مُرُوا الصَّبِىَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا
Perintahkanlah anak-anak terhadap sholat apabila telah sampai umur tujuh tahun, dan apabila telh sampai sepuluh tahun (dan ia menolak) maka pukullah atas sholat. (Abu Daud : 494)
Memukul disini seperti halnya terhadap istri yang dinasehati, dengan tanpa pukulan yang meninggalkan bekas, sebab itu semua adalah jalan terakhir untuk mengingatkan, dan itu bukan semata-mata menyakiti namun bentuk kewajiban seorang pemimpin dalam menjaga keluarga dan dirinya dari api neraka.
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim : 6)
  1. 4. Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik adalah yang paling baik pada istrinya
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
dan bergaullah dengan mereka secara baik, bila kamu tidak menyukai, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An-Nisaa : 19)
اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيـْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخَيْركُمْ خُيْرُكُمْ لِاَهْلِهِ
sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu. (At-Tobroni : 4420)
Apabila empat kewajiban ini dan kewajiban-kewajiban lain seorang suami kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah ia akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A'lam.
*dari berbagai sumber

Minggu, 21 November 2010

Teruntuk imamku Kelak

dari bunda khansa,, syukron bund...

Assalamu alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Ana ga sengaja buka artikel, tyuss ketemu ini judulnya "TERUNTUK IMANKU KELAK" Subehanallah...
Tiba2 perasaan rindu akan kekasih_Mu bergelayut dalam hati ^_^
Malu mode On...peace...
Hmm ada apa dengan jodoh koq kayaknya jadi interesting news to be discussed

Bukankah Jodoh, rezeki, ajal dan maut adalah takdir Allah s.w.t. Allah s.w.t telah berfirman di dalam surah Al-Hadid ayat 22, “Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna. Yaaaaa u itu qt smua dah faham Insya Allah tp itulah qt suka gak sabaran atau was was "zenyum"
Bisa jd mungkin dengan belum ketemunya kita dengan seseorang, kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, instrospeksi juga mempersiapkan dri untuk menjadi lebih baik, dalam hal ini kalau untuk ikhwan berarti untuk lebih mempersiapkan diri menjadi imam yang lebih baik dalam keluarga …….. Ana dapat nasehat dari Murobbi untuk Selalu berdoa memohon kepada Allah SWT, Memperbanyak sedekah, puasa, Sholat Malam, N…… silaturrahmi !!!!!!!!
Hm.. klo diliat kayaknya susah-susah gampang yah he he
Jiah koq jdi ana yg ceramah "zenyum"
Ukhtifillah mari simak artikel ini "TERUNTUK IMANKU KELAK", Ups jgn lupa sediain tissu xixixi... yooooo mari baca plus simak ^^

Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu.. Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia.. Orang tua yang begitu sempurna.. Dengan cinta yang begitu membuncah..
Aku dibesarkan dengan limpahan kasih yang tak terhingga..

Maka, padamu ku katakan.. Saat Allah memilihmu dalam hidupku, maka saat itu aku berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku.. Memperlakukanku dengan sayang yang begitu indah..

Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku, aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan.. Maka, ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dengan keberadaanmu, dan aku tahu. Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna.. Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu.. Karena kelak kita akan satu.. Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku, kau dan aku akan menjadi ‘kita’..

Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dengan ilmu dan tarbiyah, membentukku menjadi wanita yang mencintai Rabbnya.. Maka ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dengan ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita.. Itulah visi pernikahan kita.. hanya beribadah pada-Nya ta’ala..

Padamu yang Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahluk-Nya dari tulang rusuk yang paling bengkok.. Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah.. Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah, sungguh hatiku tetaplah wanita yang lemah pada kelembutan.. Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah.. Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah.. Namun tatap mataku, tersenyumlah.. Tenangkan aku dengan genggaman tanganmu.. Dan nasihati aku dengan bijak dan hikmah.. Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu.. Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..

Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan.. Maka di mataku kau adalah yang terindah, kata-katamu adalah titah untukku, selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu.. Maka kalau kau berkenan ku meminta.. Jadilah hunian yang indah, yang kokoh, yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..

Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku..
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita –insya’Allah-… Maka didiklah mereka menjadi generasi yang dirindukan JANNAH… Yang di pundaknya akan diisi dengan amanah-amanah dakwah, yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad.. Yang darahnya mengalir darah syuhada.. Dan ku yakin dari tanganmu yang penuh berkah kau mampu membentuk mereka.. Dengan hatimu yang penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka.. Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku.. Ku memohon padamu.. Ridholah padaku, sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi.. Mudahkanlah jalanku ke Jannah-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Jannahku..
Amin Ya Allah

************************** Zenyum*********************************

Selasa, 01 Juni 2010

Keberadaan Pemuda

Bagi para santri, mungkin sudah tidak asing lagi dengan ungkapan :

شُبَّانُ اْليَوْمِ رِجَالُ اْلغَدِ

Pemuda hari ini adalah laki-laki (yang memimpin) di hari esok

Pemuda dalam bahasa Arab, biasa diungkapkan dengan Syaabbun, dari kata syabba - yasyibbu. Apabila dikatakan : “syabbatin naar wa tasyabbabat”, maka artinya adalah api yang berkobar dan menyala-nyala.

Begitulah pemuda, nama yang sesuai dengan keberadaannya. Ia memiliki keinginan yang berkobar, semangat yang menggebu-gebu dan berapi-api. Namun bila tidak terarah dan terbimbing, keberadaan pemuda ini terkadang semangatnya salah kaprah, kekuatan mereka dimanfaatkan oleh kalangan tertentu. Dengan semangat yang ada pada dirinya mereka merasa berani melakukan apa pun, membela apa saja yang ia yakini benar, walaupun prilakunya jauh dari norma atau aturan yang ada.

Dalam bukunya yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”, Presiden pertama Indonesia Bapak Soekarno mengatakan : “Berikanlah kepada ku seribu kakek-kakek, saya sanggup mencabut gunung semeru. Tapi berikanlah kepada ku sepuluh pemuda, saya sanggup menggoncangkan dunia”. Inilah hakekat perbandingan pemuda dalam pengorbanan dan perjuangannya persepsi presiden Soekarno.

Namun pemuda seperti apakah yang diharapkan oleh umat ?

Nabi SAW pernah bersabda :

شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ.

Pemuda yang tumbuh (berkembang) dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla

Pemuda macam inilah yang termasuk tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. Seorang pemuda bukan berarti mesti mengorbankan kepemudaannya untuk hidup seperti kakek-kakek, namun seorang pemuda syahwatnya mesti selalu terpimpin oleh agama. Karena kelak seorang pemuda akan menjadi harapan umat, dalam memelihara segala bentuk kehidupan di masa yang akan datang.
Begitulah pemuda, generasi yang memiliki peran sangat penting dalam menentukan perubahan dunia. Sejarah banyak membuktikan bahwa generasi Pemuda banyak yang telah menjadi motor dalam perubahan-perubahan besar di dunia. Oleh karena itu pemuda dalam keberadaannya patut diperhitungkan dalam sebuah peradaban manusia.

Maka dari itulah peran generasi pemuda saat ini, sangat bergitu penting dalam membereskan segala dinamika problematika umat yang terjadi sekarang ataupun akan datang. Terlebih khusus pemuda persatuan Islam, memiliki misi penegakkan Al-Quran dan as-Sunnah, sebagai pelanjut dan pengemban misi persatuan Islam, pemuda persatuan Islam harus tampil sebagai generasi yang tershibghoh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, memiliki daya jihad yang tinggi, berilmu, dan berakhlaqul karimah untuk mengembalikan umat kepada jalan kehidupan sesuai tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah.

Senin, 31 Mei 2010

Nasihat Bijak Seorang Guru

Bandung, 30 Mei 1960

Ananda
A. Latief Muchtar
Cairo

AssaIamu 'alaikum w.w.

Telah sangat lama saja hendak berkirim surat kepada Ananda, mungkin telah 2 tahun jang lalu. Hiranan hidup djuga jang menahan dan menelan waktu, sehingga niat jang telah larna itu baru kini berlaku. Ma`afkanlah, karena kesibukan dalam Partai dan pekerdjaan kenegaraan, kepergian Ananda keluar negeri, sama sekali diluar pengetahuan dan perhatian.
Kabarnya, dekat hendak berangkat, Ananda ada membuat pedato pamifan pada Tabligh Malam Minggu di Masdjid Persatuan Islam. Tabligh itu tidak saja hadhiri, dan pedato Ananda tidak saja dengar. Hanja hawa-iklim jang Ananda "hirup" dalam Tabligh itu, ada sampai kepada saja, djauh sesudah itu.

Warkat-sajang ini hanjalah sekedar mengantar Ananda kenegeri djauh walaupun telah sangat terlambat dari waktu yang semestinya. "Mungkin", ja inilah isthilah jang lebih balk saja pakai, untuk menjatakan, bahwa Ananda meninggalkan tanah air (Bandung) dengan perasaan jang luka dan duka.
Sebabnya, telah larna saja ketahui, tidak usah saja ulangi kembali karena pasti akan memulangkan kenangan kemasa silam, jang tidak ada gunanja itu.

Perasaan ketjewa, luke serta duka, adalah garam hidup, irama hidup. Kehidupan adalah persentuhan antara senjuman dan air mata. Dengan keringat dan air mata dan tempo2 diselangi oleh senjum ketawa, dengan itulah kita membentuk Hidup kita.

Ananda meninggalkan Bandung, hidjrah ke Djakarta, kini merantau dinegeri
djauh, dengan sengadja dan paduan niaf, hendak membentuk Hidup dan pribadi. menemukan diri sendiri.

Dalam usaha menemukan diri sendiri itu, kita senantiasa dibantingkan keanerkaragaman pengalaman, penderitaan, naik dan turunnja keadaan, malah menempuh djalan pendakian. Kaki merasa lelah dan lemah. Tiba kala menurun, kaki terasa lunglai, seperti hendak djatuh tersungkur, meniarap dan menjerah kepada kenjataan, ditelan kenjataan. Itulah irama kehidupan manusia, sedjak lahir dari kandungan Bunda sampai kebatas terachir ialah pekuburan yang sepi.

Seorang idealis, seorang "murid" (menurut Al-Ghazali), tidak boleh tersungkur mebiarkan dirinja ditelan dan ditawan oleli kenjataan. Segala pengalaman, duka dan derita, harus dia djadikan peladjaran maha-berharga, mendjadi perangsang baginja untuk terus kedepan, mentjari kesempurnaan dalam hidup ini: membadjakan diri sendiri dengan kejakinan dan pengertian, pengetahuan dan pengalaman, jang achirnja hendak dia baktikan guna Keagungan Kalam Ilahi, kebesaran Islam dan Ummatnja.
Mungkin Ananda telah banjak rnenemui titik—titik hitam dalam menempuh samudera hayat. Djangan dipakai itu untuk mundur mendjauhkan diri dari gelanggang pergaulan, dimana Ananda dibesarkan pada awwalnja. Kebenaran, kedjudjuran dan ketulusan pasti pada achirnya mengalahkan kekeliruan dan kesalahan. Tuntutlah ilmu sebanjak mungkin, badjakan diri dengan kejakinan Iman dan kepertjajaan, baktikan kelak kepada perjuangan ditanah air. Djama`ah Bandung akan menerima kelak, bersama kawanmu jung lain.
Beladjar dan beladjar, djangan hanja ditjukupkan dibangku sekolah, atau diaula university semata.

Tjari pergaulan jang luas, dekati para Ulama dan tjerdik pandai, perdalam pengetahuan jang sesuai dengan bakat sjakilah. Dalarn pada itu, ingat dan kenangkan selalu Ajah dan Bundamu. Keduanja telah berusia lanjut. Asuhan jang mereka berikan dengan penuh kasih-sajang dikalamu masih ketjil dengan harapan kiranja kau kelak mendjadi Muslim jang tha`at, tha `at kepada Allah dan RasulNya, tha`at kepada Bunda dan Ajah, berguna bagi masjarakat sekeliling, itulah bidang2 harapan Jang mereka tumpahkan atasmu.

Saja senantiasa mendengar dari Ajahmu (Kang Hadji Muchtar), tumpahan sajang dan rindu. Saja dengar betapa Bundamu selalu rnengenangkan anak kesajangannja, djauh merantau dinegeri orang. Ananda tentu akan lebih merasakan semua itu.
Selain itu, walau bagaimanapun rasa ketjewa, duka serta luka, Ananda harus menundjukkan "djiwa besar" kepada bekas2 Guru Ananda di Bandung. Kirimi mereka surat, bentangkan kembali "djembatan" yang telah runtuh, buhul kembali bathin jang "mungkin" putus. ilmu dalam pergaulan mengadjarkan kepada kita: djanganlah kita berbuat kesalahan kepada orang lain, biar orang lain berbuat
kekeliruan terhadap kita. Umur dan djiwa jang telah dewasa —seperti Ananda
sekarang— harus mendorong Ananda untuk mengulurkan tangan kembali terhadap Guru2 jang telah mengasuh dan merawat Ananda selama ini.

Nasehat2 diatas hanjalah timbul dari rasa-tjinta dan keinginan jang keras, agar Ananda seperti djuga kepada Pemuda2 lainnya, memiliki masa gemilang zaman
akan datang.
Semoga senantiasa bahagia.
Qif duna ra-aika fit hayati mujahidan
Innal hayata `aqidatun wa jihadun

Wassalam

K.H.M. Isa Anshaiy

Postingan Pertamaku

Ini adalah postingan pertamaku,

alamat blogku :

http://tsabitmujahid.blogspot.com

alamat facebookku :

http://tsabitmujahid@yahoo.com