Senin, 31 Mei 2010

Nasihat Bijak Seorang Guru

Bandung, 30 Mei 1960

Ananda
A. Latief Muchtar
Cairo

AssaIamu 'alaikum w.w.

Telah sangat lama saja hendak berkirim surat kepada Ananda, mungkin telah 2 tahun jang lalu. Hiranan hidup djuga jang menahan dan menelan waktu, sehingga niat jang telah larna itu baru kini berlaku. Ma`afkanlah, karena kesibukan dalam Partai dan pekerdjaan kenegaraan, kepergian Ananda keluar negeri, sama sekali diluar pengetahuan dan perhatian.
Kabarnya, dekat hendak berangkat, Ananda ada membuat pedato pamifan pada Tabligh Malam Minggu di Masdjid Persatuan Islam. Tabligh itu tidak saja hadhiri, dan pedato Ananda tidak saja dengar. Hanja hawa-iklim jang Ananda "hirup" dalam Tabligh itu, ada sampai kepada saja, djauh sesudah itu.

Warkat-sajang ini hanjalah sekedar mengantar Ananda kenegeri djauh walaupun telah sangat terlambat dari waktu yang semestinya. "Mungkin", ja inilah isthilah jang lebih balk saja pakai, untuk menjatakan, bahwa Ananda meninggalkan tanah air (Bandung) dengan perasaan jang luka dan duka.
Sebabnya, telah larna saja ketahui, tidak usah saja ulangi kembali karena pasti akan memulangkan kenangan kemasa silam, jang tidak ada gunanja itu.

Perasaan ketjewa, luke serta duka, adalah garam hidup, irama hidup. Kehidupan adalah persentuhan antara senjuman dan air mata. Dengan keringat dan air mata dan tempo2 diselangi oleh senjum ketawa, dengan itulah kita membentuk Hidup kita.

Ananda meninggalkan Bandung, hidjrah ke Djakarta, kini merantau dinegeri
djauh, dengan sengadja dan paduan niaf, hendak membentuk Hidup dan pribadi. menemukan diri sendiri.

Dalam usaha menemukan diri sendiri itu, kita senantiasa dibantingkan keanerkaragaman pengalaman, penderitaan, naik dan turunnja keadaan, malah menempuh djalan pendakian. Kaki merasa lelah dan lemah. Tiba kala menurun, kaki terasa lunglai, seperti hendak djatuh tersungkur, meniarap dan menjerah kepada kenjataan, ditelan kenjataan. Itulah irama kehidupan manusia, sedjak lahir dari kandungan Bunda sampai kebatas terachir ialah pekuburan yang sepi.

Seorang idealis, seorang "murid" (menurut Al-Ghazali), tidak boleh tersungkur mebiarkan dirinja ditelan dan ditawan oleli kenjataan. Segala pengalaman, duka dan derita, harus dia djadikan peladjaran maha-berharga, mendjadi perangsang baginja untuk terus kedepan, mentjari kesempurnaan dalam hidup ini: membadjakan diri sendiri dengan kejakinan dan pengertian, pengetahuan dan pengalaman, jang achirnja hendak dia baktikan guna Keagungan Kalam Ilahi, kebesaran Islam dan Ummatnja.
Mungkin Ananda telah banjak rnenemui titik—titik hitam dalam menempuh samudera hayat. Djangan dipakai itu untuk mundur mendjauhkan diri dari gelanggang pergaulan, dimana Ananda dibesarkan pada awwalnja. Kebenaran, kedjudjuran dan ketulusan pasti pada achirnya mengalahkan kekeliruan dan kesalahan. Tuntutlah ilmu sebanjak mungkin, badjakan diri dengan kejakinan Iman dan kepertjajaan, baktikan kelak kepada perjuangan ditanah air. Djama`ah Bandung akan menerima kelak, bersama kawanmu jung lain.
Beladjar dan beladjar, djangan hanja ditjukupkan dibangku sekolah, atau diaula university semata.

Tjari pergaulan jang luas, dekati para Ulama dan tjerdik pandai, perdalam pengetahuan jang sesuai dengan bakat sjakilah. Dalarn pada itu, ingat dan kenangkan selalu Ajah dan Bundamu. Keduanja telah berusia lanjut. Asuhan jang mereka berikan dengan penuh kasih-sajang dikalamu masih ketjil dengan harapan kiranja kau kelak mendjadi Muslim jang tha`at, tha `at kepada Allah dan RasulNya, tha`at kepada Bunda dan Ajah, berguna bagi masjarakat sekeliling, itulah bidang2 harapan Jang mereka tumpahkan atasmu.

Saja senantiasa mendengar dari Ajahmu (Kang Hadji Muchtar), tumpahan sajang dan rindu. Saja dengar betapa Bundamu selalu rnengenangkan anak kesajangannja, djauh merantau dinegeri orang. Ananda tentu akan lebih merasakan semua itu.
Selain itu, walau bagaimanapun rasa ketjewa, duka serta luka, Ananda harus menundjukkan "djiwa besar" kepada bekas2 Guru Ananda di Bandung. Kirimi mereka surat, bentangkan kembali "djembatan" yang telah runtuh, buhul kembali bathin jang "mungkin" putus. ilmu dalam pergaulan mengadjarkan kepada kita: djanganlah kita berbuat kesalahan kepada orang lain, biar orang lain berbuat
kekeliruan terhadap kita. Umur dan djiwa jang telah dewasa —seperti Ananda
sekarang— harus mendorong Ananda untuk mengulurkan tangan kembali terhadap Guru2 jang telah mengasuh dan merawat Ananda selama ini.

Nasehat2 diatas hanjalah timbul dari rasa-tjinta dan keinginan jang keras, agar Ananda seperti djuga kepada Pemuda2 lainnya, memiliki masa gemilang zaman
akan datang.
Semoga senantiasa bahagia.
Qif duna ra-aika fit hayati mujahidan
Innal hayata `aqidatun wa jihadun

Wassalam

K.H.M. Isa Anshaiy

Tidak ada komentar: