Minggu, 21 November 2010

Teruntuk imamku Kelak

dari bunda khansa,, syukron bund...

Assalamu alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Ana ga sengaja buka artikel, tyuss ketemu ini judulnya "TERUNTUK IMANKU KELAK" Subehanallah...
Tiba2 perasaan rindu akan kekasih_Mu bergelayut dalam hati ^_^
Malu mode On...peace...
Hmm ada apa dengan jodoh koq kayaknya jadi interesting news to be discussed

Bukankah Jodoh, rezeki, ajal dan maut adalah takdir Allah s.w.t. Allah s.w.t telah berfirman di dalam surah Al-Hadid ayat 22, “Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna. Yaaaaa u itu qt smua dah faham Insya Allah tp itulah qt suka gak sabaran atau was was "zenyum"
Bisa jd mungkin dengan belum ketemunya kita dengan seseorang, kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, instrospeksi juga mempersiapkan dri untuk menjadi lebih baik, dalam hal ini kalau untuk ikhwan berarti untuk lebih mempersiapkan diri menjadi imam yang lebih baik dalam keluarga …….. Ana dapat nasehat dari Murobbi untuk Selalu berdoa memohon kepada Allah SWT, Memperbanyak sedekah, puasa, Sholat Malam, N…… silaturrahmi !!!!!!!!
Hm.. klo diliat kayaknya susah-susah gampang yah he he
Jiah koq jdi ana yg ceramah "zenyum"
Ukhtifillah mari simak artikel ini "TERUNTUK IMANKU KELAK", Ups jgn lupa sediain tissu xixixi... yooooo mari baca plus simak ^^

Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu.. Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia.. Orang tua yang begitu sempurna.. Dengan cinta yang begitu membuncah..
Aku dibesarkan dengan limpahan kasih yang tak terhingga..

Maka, padamu ku katakan.. Saat Allah memilihmu dalam hidupku, maka saat itu aku berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku.. Memperlakukanku dengan sayang yang begitu indah..

Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku, aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan.. Maka, ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dengan keberadaanmu, dan aku tahu. Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna.. Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu.. Karena kelak kita akan satu.. Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku, kau dan aku akan menjadi ‘kita’..

Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dengan ilmu dan tarbiyah, membentukku menjadi wanita yang mencintai Rabbnya.. Maka ketika Dia memilihmu untukku, maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dengan ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita.. Itulah visi pernikahan kita.. hanya beribadah pada-Nya ta’ala..

Padamu yang Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahluk-Nya dari tulang rusuk yang paling bengkok.. Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah.. Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah, sungguh hatiku tetaplah wanita yang lemah pada kelembutan.. Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah.. Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah.. Namun tatap mataku, tersenyumlah.. Tenangkan aku dengan genggaman tanganmu.. Dan nasihati aku dengan bijak dan hikmah.. Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu.. Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..

Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan.. Maka di mataku kau adalah yang terindah, kata-katamu adalah titah untukku, selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu.. Maka kalau kau berkenan ku meminta.. Jadilah hunian yang indah, yang kokoh, yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..

Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku..
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita –insya’Allah-… Maka didiklah mereka menjadi generasi yang dirindukan JANNAH… Yang di pundaknya akan diisi dengan amanah-amanah dakwah, yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad.. Yang darahnya mengalir darah syuhada.. Dan ku yakin dari tanganmu yang penuh berkah kau mampu membentuk mereka.. Dengan hatimu yang penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka.. Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..
Padamu yang Allah pilih sebagai imamku.. Ku memohon padamu.. Ridholah padaku, sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi.. Mudahkanlah jalanku ke Jannah-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Jannahku..
Amin Ya Allah

************************** Zenyum*********************************

Selasa, 01 Juni 2010

Keberadaan Pemuda

Bagi para santri, mungkin sudah tidak asing lagi dengan ungkapan :

شُبَّانُ اْليَوْمِ رِجَالُ اْلغَدِ

Pemuda hari ini adalah laki-laki (yang memimpin) di hari esok

Pemuda dalam bahasa Arab, biasa diungkapkan dengan Syaabbun, dari kata syabba - yasyibbu. Apabila dikatakan : “syabbatin naar wa tasyabbabat”, maka artinya adalah api yang berkobar dan menyala-nyala.

Begitulah pemuda, nama yang sesuai dengan keberadaannya. Ia memiliki keinginan yang berkobar, semangat yang menggebu-gebu dan berapi-api. Namun bila tidak terarah dan terbimbing, keberadaan pemuda ini terkadang semangatnya salah kaprah, kekuatan mereka dimanfaatkan oleh kalangan tertentu. Dengan semangat yang ada pada dirinya mereka merasa berani melakukan apa pun, membela apa saja yang ia yakini benar, walaupun prilakunya jauh dari norma atau aturan yang ada.

Dalam bukunya yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”, Presiden pertama Indonesia Bapak Soekarno mengatakan : “Berikanlah kepada ku seribu kakek-kakek, saya sanggup mencabut gunung semeru. Tapi berikanlah kepada ku sepuluh pemuda, saya sanggup menggoncangkan dunia”. Inilah hakekat perbandingan pemuda dalam pengorbanan dan perjuangannya persepsi presiden Soekarno.

Namun pemuda seperti apakah yang diharapkan oleh umat ?

Nabi SAW pernah bersabda :

شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ.

Pemuda yang tumbuh (berkembang) dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla

Pemuda macam inilah yang termasuk tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. Seorang pemuda bukan berarti mesti mengorbankan kepemudaannya untuk hidup seperti kakek-kakek, namun seorang pemuda syahwatnya mesti selalu terpimpin oleh agama. Karena kelak seorang pemuda akan menjadi harapan umat, dalam memelihara segala bentuk kehidupan di masa yang akan datang.
Begitulah pemuda, generasi yang memiliki peran sangat penting dalam menentukan perubahan dunia. Sejarah banyak membuktikan bahwa generasi Pemuda banyak yang telah menjadi motor dalam perubahan-perubahan besar di dunia. Oleh karena itu pemuda dalam keberadaannya patut diperhitungkan dalam sebuah peradaban manusia.

Maka dari itulah peran generasi pemuda saat ini, sangat bergitu penting dalam membereskan segala dinamika problematika umat yang terjadi sekarang ataupun akan datang. Terlebih khusus pemuda persatuan Islam, memiliki misi penegakkan Al-Quran dan as-Sunnah, sebagai pelanjut dan pengemban misi persatuan Islam, pemuda persatuan Islam harus tampil sebagai generasi yang tershibghoh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, memiliki daya jihad yang tinggi, berilmu, dan berakhlaqul karimah untuk mengembalikan umat kepada jalan kehidupan sesuai tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah.

Senin, 31 Mei 2010

Nasihat Bijak Seorang Guru

Bandung, 30 Mei 1960

Ananda
A. Latief Muchtar
Cairo

AssaIamu 'alaikum w.w.

Telah sangat lama saja hendak berkirim surat kepada Ananda, mungkin telah 2 tahun jang lalu. Hiranan hidup djuga jang menahan dan menelan waktu, sehingga niat jang telah larna itu baru kini berlaku. Ma`afkanlah, karena kesibukan dalam Partai dan pekerdjaan kenegaraan, kepergian Ananda keluar negeri, sama sekali diluar pengetahuan dan perhatian.
Kabarnya, dekat hendak berangkat, Ananda ada membuat pedato pamifan pada Tabligh Malam Minggu di Masdjid Persatuan Islam. Tabligh itu tidak saja hadhiri, dan pedato Ananda tidak saja dengar. Hanja hawa-iklim jang Ananda "hirup" dalam Tabligh itu, ada sampai kepada saja, djauh sesudah itu.

Warkat-sajang ini hanjalah sekedar mengantar Ananda kenegeri djauh walaupun telah sangat terlambat dari waktu yang semestinya. "Mungkin", ja inilah isthilah jang lebih balk saja pakai, untuk menjatakan, bahwa Ananda meninggalkan tanah air (Bandung) dengan perasaan jang luka dan duka.
Sebabnya, telah larna saja ketahui, tidak usah saja ulangi kembali karena pasti akan memulangkan kenangan kemasa silam, jang tidak ada gunanja itu.

Perasaan ketjewa, luke serta duka, adalah garam hidup, irama hidup. Kehidupan adalah persentuhan antara senjuman dan air mata. Dengan keringat dan air mata dan tempo2 diselangi oleh senjum ketawa, dengan itulah kita membentuk Hidup kita.

Ananda meninggalkan Bandung, hidjrah ke Djakarta, kini merantau dinegeri
djauh, dengan sengadja dan paduan niaf, hendak membentuk Hidup dan pribadi. menemukan diri sendiri.

Dalam usaha menemukan diri sendiri itu, kita senantiasa dibantingkan keanerkaragaman pengalaman, penderitaan, naik dan turunnja keadaan, malah menempuh djalan pendakian. Kaki merasa lelah dan lemah. Tiba kala menurun, kaki terasa lunglai, seperti hendak djatuh tersungkur, meniarap dan menjerah kepada kenjataan, ditelan kenjataan. Itulah irama kehidupan manusia, sedjak lahir dari kandungan Bunda sampai kebatas terachir ialah pekuburan yang sepi.

Seorang idealis, seorang "murid" (menurut Al-Ghazali), tidak boleh tersungkur mebiarkan dirinja ditelan dan ditawan oleli kenjataan. Segala pengalaman, duka dan derita, harus dia djadikan peladjaran maha-berharga, mendjadi perangsang baginja untuk terus kedepan, mentjari kesempurnaan dalam hidup ini: membadjakan diri sendiri dengan kejakinan dan pengertian, pengetahuan dan pengalaman, jang achirnja hendak dia baktikan guna Keagungan Kalam Ilahi, kebesaran Islam dan Ummatnja.
Mungkin Ananda telah banjak rnenemui titik—titik hitam dalam menempuh samudera hayat. Djangan dipakai itu untuk mundur mendjauhkan diri dari gelanggang pergaulan, dimana Ananda dibesarkan pada awwalnja. Kebenaran, kedjudjuran dan ketulusan pasti pada achirnya mengalahkan kekeliruan dan kesalahan. Tuntutlah ilmu sebanjak mungkin, badjakan diri dengan kejakinan Iman dan kepertjajaan, baktikan kelak kepada perjuangan ditanah air. Djama`ah Bandung akan menerima kelak, bersama kawanmu jung lain.
Beladjar dan beladjar, djangan hanja ditjukupkan dibangku sekolah, atau diaula university semata.

Tjari pergaulan jang luas, dekati para Ulama dan tjerdik pandai, perdalam pengetahuan jang sesuai dengan bakat sjakilah. Dalarn pada itu, ingat dan kenangkan selalu Ajah dan Bundamu. Keduanja telah berusia lanjut. Asuhan jang mereka berikan dengan penuh kasih-sajang dikalamu masih ketjil dengan harapan kiranja kau kelak mendjadi Muslim jang tha`at, tha `at kepada Allah dan RasulNya, tha`at kepada Bunda dan Ajah, berguna bagi masjarakat sekeliling, itulah bidang2 harapan Jang mereka tumpahkan atasmu.

Saja senantiasa mendengar dari Ajahmu (Kang Hadji Muchtar), tumpahan sajang dan rindu. Saja dengar betapa Bundamu selalu rnengenangkan anak kesajangannja, djauh merantau dinegeri orang. Ananda tentu akan lebih merasakan semua itu.
Selain itu, walau bagaimanapun rasa ketjewa, duka serta luka, Ananda harus menundjukkan "djiwa besar" kepada bekas2 Guru Ananda di Bandung. Kirimi mereka surat, bentangkan kembali "djembatan" yang telah runtuh, buhul kembali bathin jang "mungkin" putus. ilmu dalam pergaulan mengadjarkan kepada kita: djanganlah kita berbuat kesalahan kepada orang lain, biar orang lain berbuat
kekeliruan terhadap kita. Umur dan djiwa jang telah dewasa —seperti Ananda
sekarang— harus mendorong Ananda untuk mengulurkan tangan kembali terhadap Guru2 jang telah mengasuh dan merawat Ananda selama ini.

Nasehat2 diatas hanjalah timbul dari rasa-tjinta dan keinginan jang keras, agar Ananda seperti djuga kepada Pemuda2 lainnya, memiliki masa gemilang zaman
akan datang.
Semoga senantiasa bahagia.
Qif duna ra-aika fit hayati mujahidan
Innal hayata `aqidatun wa jihadun

Wassalam

K.H.M. Isa Anshaiy

Postingan Pertamaku

Ini adalah postingan pertamaku,

alamat blogku :

http://tsabitmujahid.blogspot.com

alamat facebookku :

http://tsabitmujahid@yahoo.com